Jumat, 07 Juni 2013

contoh makalah pertanian


PARADIGMA PEMASARAN  DAN PERMSALAHANYA
DALAM PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN
DENGAN SISTEM INFORMASI CYBER EXTENSION
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Sistem Informasi
Prof, Dr. Ir. Kundang Boro Seminar,
1. Joko Heriyadi
2. Syafriman
3. Andi Tenri Abeng
4. Meijana Irawan Sukarja
5. Deni Ahmad Hidayat
6. Heru Hermanto
7. Nono Sukirno
Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension
PARADIGMA PEMASARAN DAN PERMASALAHANYA
DALAM PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN
DENGAN SISTEM INFORMASI CYBER EXTENSION
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Dosen :
Prof, Dr. Ir. Kundang Boro Seminar, MSc
Disusun Oleh :
Kelompok 1(EK – 9 / BPN)
Joko Heriyadi P056101753.9EK
Syafriman P056101893.9EK
Andi Tenri Abeng P056101653.9EK
Meijana Irawan Sukarja P056101803.9EK
Deni Ahmad Hidayat P056101663.9EK
Heru Hermanto P056101733.9EK
Nono Sukirno P056101823.9EK
2011
Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 1
PARADIGMA PEMASARAN DAN PERMASALAHANYA
DALAM PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN
DENGAN SISTEM INFORMASI CYBER EXTENSIONSistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 1
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 6
2.1 Macam-Macam Strategi Pemasaran ..................................................... 6
2.2 Penyuluhan Pertanian ......................................................................... 8
BAB III HASIL YANG DIHARAPKAN .................................................. 10
3.1 Konsep Dasar Komunikasi dalam Cyber Extension ............................. 10
3.2 Inovasi Pertanian ................................................................................ 10
3.3 Karekteristik Elemen Sistem Jaringan Informasi Inovasi Pertanian ..... 11
3.4 Sistem Kerja Cyber Extension ............................................................ 12
3.5 Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang Sistem Jaringan Komunikasi
Informasi Cyber Extension .................................................................. 16
3.6 Pelaku Jaringan Komunikasi Informasi Inovasi Pertanian ................... 16
3.7 Penguatan Sistem Jaringan Komunikasi Informasi Inovasi
Pertanian Melalui Implementasi Cyber Extension ................................ 17
BAB IV PENUTUP .................................................................................... 18
4.1 Kesimpulan ......................................................................................... 18
4.2 Saran .................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 20
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Karakteristik Sistem ..................................................................... 12
Gambar 2 Website Pertanian ......................................................................... 14
Gambar 3 Model UPIPK ideal P4MI ............................................................. 15
Gambar 4 Sistem Jaringan Komunikasi Inovasi Pertanaian ........................... 17 Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu paradigma pemasaran akhir-akhir ini yang cukup populer
adalah pemasaran produk pertanian tidak berpihak pada petani produsen
terutama petani produsen dengan lahan pertanian yang relatif sempit/terbatas.
Petani produsen dengan lahan pertanian yang sempit dan didirikan
denga cara-cara bertani tradisional pada umumnya proses produksinya tidak
efisien dan bahkan mengganggu biaya produksi pertaniannya hanya
diperhitungkan dari biaya-biaya produksi yang riil dikeluarkan sehingga
biaya-biaya yang tidak keluar akan secara nyata dianggap bukan faktor
produksi sehingga terus dipergunakan dalam proses biaya produksi. Biasanya
yang diperhitungkan hanya tenaga kerja yang diambil dari luar keluarganya
sehingga secara nyata diperlukan biaya untuk tenaga kerja tersebut contoh
buruh tani yang digunakan sehinnga petani produsen betul-betul secara nyata
mengeluarkan biaya yang berupa upah sedangkan tenaga sendiri dan
keluarganya sering tidak diperhitungkan.
Akibat dari hal tersebut diatas biaya tenaga kerja sendiri/keluarganya
tersebut diperhitungkan sebagai keuntungan yang diperoleh. Ciri-ciri dari
petani produsen yang tradisional yaitu tidak adanya pengetahuan tentang pasar
sebagai tempat bertemu produsen dan konsumen termasuk harga pasar,
permintaan dan penawaran, sehingga para petani produsen hanya dapat
menerima harga pasar yang pada umumnya ditentukan oleh para pedagang
perantara sebagai akibat ketidaktahuan / tidak adanya informasi mengenai
pasar pada tingkat petani produsen.
Sebagai akibat lebih lanjut dari keadaan tersebut diatas maka margin
harga ditingkat produsen dan di pasar lebih besar diperoleh para pedagang
perantara bahkan kadang-kadang produsen hanya memperoleh pendapatan
yang berupa biaya produksi tanpa keuntungan.
1.2 Perumusan Masalah
Pembangunan pertanian akan terbentur apabila petani-petani kecil itu
tidak memiliki kesempatan untuk membeli barang; apabila input-input
pertanian, baik yang modern maupun yang tradisional kurang persediaannya;
dan apabila informasi-informasi yang tepat mengenai tanaman baru, harga
pasar, atau teknik baru tidak bisa diperoleh. Permasalahan pembangunan
pertanian lebih dominan disebabkan oleh lemahnya pembangunan sosial.
Faktor sosial (modal sosial) dan kelembagaan sebagai basis kristalisasi nilai
tidak ditangani secara baik. Kelembagaan pada tingkat mikro (kelompok tani)
yang merupakan basis berkembangnya modal sosial dari bawah, sehingga
perlu diperkuat karena berpotensi menjadi bahan bakar pembangunan sosial
dan ekonomi di pedesaan. Berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 2
maka lembaga pembangunan pertanian yang berinduk pada lembaga sektor
nasional harus menyesuaikan rencana dan strategi pembangunan sektor ke
dalam pola pikir dan tujuan pembangunan daerah. Keragaman potensi
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sosial budaya dan iklim
pembangunan daerah membuka peluang bagi lembaga pembangunan pertanian
untuk lebih kreatif untuk mengembangan strategi pendekatan yang bersifat
spesifik lokalita dan berkelanjutan. Keberhasilan pembangunan ekonomi di
pedesaan tidak terlepas dari sinkronisasi kebijakan pembangunan pertanian di
tingkat nasional, regional dan daerah. Pembangunan sektor pertanian tidak
bisa dilakukan secara otonom karena mempunyai keterkaitan dengan sub
sektor dan sektor-sektor lain dan sejauh ini masih memerlukan dukungan dan
jaringan kerjasama dari berbagai sektor.
Paradigma modernisaisi pertanian yang bertujuan merubah sektor
pertanian tradisional menjadi sektor pertanian modern yang dikenal dengan
“revolusi hijau” telah mampu meningkatkan produksi pertanian khususnya
pertanian tanaman pangan (padi) juga diikuti dengan munculnya berbagai
masalah generasi kedua, seperti:
a. Rentannya sistem pertanian pangan di Negara-negara sedang berkembang
terhadap serangan hama penyakit;
b. Ketergantungan petani pada input-input modern (pupuk kimiawi,
pestisidan dan herbisida);
c. Masalah sosial (perbedaan antara petani kaya dan petani miskin) yang
disebabkan oleh adanya perubahan dalam berbagai situasi tradisional yang
semula berperan dalam mekanisme pemerataan; dan
d. Berkembangnya ekonomi uang di daerah pedesaan.
e. Permasalahan-permasalahan pembangunan pertanian masih dapat
dianalisis lebih rinci mengenai faktor-faktor penyababnya :
1. Meningkatnya serangan hama penyakit pada tanaman pangan
disebabkan oleh meningkatnya penggunaan teknologi pertanian
modern,
2. Ketergantungan petani pada input-input modern disebabkan oleh
orientasi peningkatan produksi sebagai tolok ukur keberhasilan
pembangunan pertanian tanpa mempertimbangkan dampak-dampak
negattif terhadap penerapan teknologi modern.
3. Meningkatnya stratafikasi sosial di pedesaan seperti adanya perbedaan
petani kaya dan petani miskin atau adanya golongan petani berperilaku
rasional (rational behavior) dan golongan petani yang mementingkan
diri sendiri (self interested) disebabkan oleh perbedaan
pemilikan/penguasaan lahan pertanian yang berakibat pada
meningkatnya kemiskinan,
4. Berkembangkannya ekonomi uang di pedesaan tidak diimbangi oleh
pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada kelembagaan
sosial pedesaan. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 3
Permasalahan lain dalam pelaksanaan pembangunan berorientasi
peningkatan produksi adalah tidak diikuti dengan pengembangan teknologi
sosial seperti pengembangan kelembagaan pedesaan yang berbasis agribisnis
serta mengabaikan faktor-faktor sosial budaya dan kekuatan sumberdaya
lokal, sehingga mengakibatkan pembangunan pertanian tidak berkelanjutan.
Keberhasilan agribisnis di sektor pertanian sangat ditentukan oleh kekuatan
modal sosial melalui jaringan-jaringan (networks), saling kepercayaan (trust)
dan norma (norms). Tidak berjalannya kegiatan agribisnis di pedesaan
disebabkan oleh rusaknya modal sosial karena perilaku negatif yang dilakukan
oleh beberapa individu.
Sistem pemasaran pertanian merupakan satu kesatuan urutan lembagalembaga pemasaran. Tugasnya melakukan fungsi-fungsi pemasaran untuk
memperlancar aliran produk pertanian dari produsen awal ke tangan
konsumen akhir. Begitu pula sebaliknya memperlancar aliran uang, nilai
produk yang tercipta oleh kegiatan produktif yang dilakukan oleh lembagalembaga pemasaran, baik dari tangan konsumen akhir ke tangan produsen
awal dalam suatu sistem komoditas
Sistem pemasaran pertanian mencakup banyak lembaga, baik yang
berorientasi laba maupun nirlaba, baik yang terlibat dan terkait secara
langsung maupun yang tidak terlibat atau terkait langsung dengan operasi
sistem pemasaran pertanian. Sistem pemasaran yang kompleks tersebut
diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam upaya memaksimalkan
tingkat konsumsi kepuasan konsumen, pilihan konsumen, dan mutu hidup
masyarakat.
Dalam pengembangan sektor pertanian ke depan masih ditemui beberapa
kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang berbasiskan
agribisnis dan agroindustri.1
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan
pertanian khususnya petani skala kecil, antara lain :
a. Lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan.
b. Ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah.
c. Pengadaan dan penyaluran sarana produksi.
d. Terbatasnya kemampuan dalam penguasaan teknologi.
e. Lemahnya organisasi dan manajemen usaha tani.
f. Kurangnya kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia untuk sektor
agribisnis.
Masalah utama yang dihadapi pada pemasaran produk pertanian meliputi,
antara lain:
1. Kesinambungan produksi
Salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah pemasaran hasil
petanian berhubungan dengan sifat dan ciri khas produk pertanian, yaitu:
1
Almasdi Syahza, (2001a). Kajian sosial ekonomi usahatani tanaman pangan dan hortikultura
di kabupaten Pelalawan Propinsi Riau, Pangkalan Kerinci, BAPPEDA Kabupaten Pelalawan, Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 4
a. Volume produksi yang kecil karena diusahakan dengan skala usaha
kecil (small scale farming).
b. Produksi bersifat musiman sehingga hanya tersedia pada waktuwaktu tertentu.
c. Lokasi usaha tani yang terpencar-pencar sehingga menyulitkan
dalam proses pengumpulan produksi.
d. Sifat produk pertanian yang mudah rusak, berat dan memerlukan
banyak tempat.
2. Kurang memadainya pasar
Kurang memadainya pasar yang dimaksud berhubungan dengan cara
penetapan harga dan pembayaran. Ada tiga cara penetapan harga jual
produk pertanian yaitu: sesuai dengan harga yang berlaku; tawarmenawar; dan borongan.
3. Panjangnya saluran pemasaran
Panjangnya saluran pemasaran menyebabkan besarnya biaya yang
dikeluarkan (marjin pemasaran yang tinggi) serta ada bagian yang
dikeluarkan sebagai keuntungan pedagang.
4. Rendahnya kemampuan tawar-menawar
Kemampuan petani dalam penawaran produk yang dihasilkan masih
terbatas karena keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga ada
kecenderungan produk-produk yang dihasilkan dijual dengan harga yang
rendah. Berdasarkan keadaan tersebut, maka yang meraih keuntungan
besar pada umumnya adalah pihak pedagang. Keterbatasan modal
tersebut berhubungan dengan:
a. Sikap mental petani yang suka mendapatkan pinjaman kepada
tengkulak dan pedagang perantara.
b. Fasilitas perkreditan yang disediakan pemerintah belum dapat
dimanfaatkan secara optimal.
5. Berfluktuasinya harga
Harga produksi hasil pertanian yang selalu berfluktuasi tergantung dari
perubahan yang terjadi pada permintaan dan penawaran. Naik turunnya
harga dapat terjadi dalam jangka pendek yaitu per bulan, per minggu
bahkan per hari atau dapat pula terjadi dalam jangka panjang.
6. Kurang tersedianya informasi pasar
Informasi pasar merupakan faktor yang menentukan apa yang diproduksi,
di mana, mengapa, bagaimana dan untuk siapa produk dijual dengan
keuntungan terbaik.
7. Kurang jelasnya jaringan pemasaran
Produsen dan/atau pedagang dari daerah sulit untuk menembus jaringan
pemasaran yang ada di daerah lain karena pihak-pihak yang terlibat
dalam jaringan pemasaran tersebut dan tempat kegiatan berlangsung
tidak diketahui. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 5
8. Rendahnya kualitas produksi
Rendahnya kualitas produk yang dihasilkan karena penanganan yang
dilakukan belum intensif. Masalah mutu ini timbul karena penanganan
kegiatan mulai dari pra panen sampai dengan panen yang belum
dilakukan dengan baik.
9. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia
Masalah pemasaran yang tak kalah pentingnya adalah rendahnya mutu
sumberdaya manusia, khususnya di daerah pedesaan. Rendahnya kualitas
sumberdaya manusia ini tidak pula didukung oleh fasilitas pelatihan yang
memadai, sehingga penanganan produk mulai dari pra panen sampai ke
pasca panen dan pemasaran tidak dilakukan dengan baik.2
2
Ibid hal 5 Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 6
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Macam-Macam Strategi Pemasaran
Permasalahan nyata yang ada pada pertanian kita saat ini adalah
masalah pemasaran produk pertanian yang menyebabkan sektor pertanian kita
kurang berkembang, dan bila sistem pemasaran kita tidak diperbaiki secepat
mungkin, maka pertanian berkelanjutan akan sulit diwujudkan hal ini
dikarenakan semakin berkurangnya minat masyarakat terhadap bidang
pertanian. Pemasaran sendiri memiliki tiga komponen utama fungsi, yaitu:
1. Bauran pemasaran adalah elemen internal atau unsur penting yang
disusun dalam program pemasaran organisasi
2. Kekuatan Pasar adalah peluang atau ancaman dari luar yang
berinteraksidengan operasi pemasaran organisasi.
3. Proses Penyesuaian adalah proses strategis dan manajerial dimana
bauran pemasaran kebutuhan internal sesuai dengan kekuatan pasar.
Program pemasaran menjadi karakteristik proses penyesuaian dan hal
tersebut penting dalam konteks jasa. Analisa terhadap peluang atau
kesempatan pemasaran dilakukan dengan :
1. Mencari informasi tentang pasar konsumen maupun pasar bisnis,
informasitentang kondisi pesaing.
2. Melakukan segmentasi pasar dan memilih pasar sasaran.
Pembuatan strategi pemasaran merupakan penerapan strategi
diferensiasi untuk pasar sasaran yang dipilihnya. Dalam
merencanakan pemasaran ditetapkan besarnya biaya pemasaran, bauran
pemasaran perlu dilakukan agar terjadi kesesuaian antara strategi pemasaran
yang ada dengan penerapannya.3
Strategi pemasaran adalah logika pemasaran
dan berdasarkan itu unit usaha diharapkan mencapai sasaran-sasaran
pemasarannya. Strategi pemasaran memiliki peran dalam membantu
pengembangan perspektif strategis dari unit bisnis dalam mengarahkan unit
yang bersangkutan ke masa depannya. Fokus dari strategi pemasaran adalah
mencari cara-cara dimana perusahaan dapat membedakan diri secara efektif
dari pesaingnya dan dengan kekuatan yang berbeda tersebut memberikan nilai
yang lebih pemasaran yang baik kepada konsumennya. Dari permasalahan
diatas kita dapat melihat bahwa yang menimpa petani lokal adalah margin
tataniaga yang ada di tingkat petani dan pedagang (baik pengumpul maupun
pedagang pengecer). Margin tataniaga pertanian sendiri adalah perbedaan
harga ditingkat petani dengan harga ditingkat pengecer. Margin tataniaga
3 Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran . Jilid 1. Edisi ke-9. PT Prenhalindo. Jakarta. Limbong,
W.H. dan P. Sitorus. 1987. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 7
pertanian juga dapat diartikan sebagai perbadaan atau jarak vertikal antara
kurva permintaan (atau kurva penawaran ).4
Komponen marjin tataniaga pertanian ini terdiri dari :
1) Biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan
fungsi-fungsi tata niaga pertanian yang disebut biaya tata niaga atau
biaya fungsional dan
2) Keuntungan (profit) lembaga tata niaga pertanian.
5
mengungkapakan
bahwa sifat umum dari margin tata niaga pertanian yaitu :
a. Marjin tata niaga pertanian berbeda beda antara satu komoditi
pertanian denga komoditi lainnya. Hal ini disebabkan karena
perbedaan jasa yang diberikan pada berbagai komoditi mulai dari
pintu gerbang petani sampai ke tingkat pengecer untuk konsumen
akhir .
b. Marjin tata niaga produk pertanian cendrung akan naik dalam jangka
panjang dengan menurunnya bagian harga yang diterima petani
c. Marjin tataniaga pertanian relatif stabil dalam jangka pendek
terutama dalam hubungannya dengan berfluktuasinya harga-harga
produk hasil pertanian.
Pola saluran pemasaran merupakan bentuk saluran pemasaran langsung. Pola
saluran pemasaran seperti ini disebut juga saluran pemasaran nol tingkat
karena pada pola ini petani langsung menjual komoditas pada konsumen lokal
tanpa perantara pemasaran.
Konsumen lokal pada saluran ini adalah masyarakat sekitar yang bertempat
tinggal dekat petani tersebut. Pola saluran ini digunakan sesekali waktu oleh
petani sangat tergantung pada permintaan konsumen lokal diantaranya :
1. Pada pola ini petani menjual komoditas kepada tengkulak dengan sistem
borongan di kebun dengan sistem ini petani tidak perlu melakukan
kegiatan pemanenan dan pasca panen. Karena kegiatan tersebut dilakukan
oleh tengkulak. Tengkulak selalu menjual komoditas tersebut kepada para
pedagang pasar lokal. Pedagang lokal ini bertindak sebagai pedagang
pengecer yang menjual kepada konsumen lokal.
2. Pola saluran pemasaran kedua merupakan pola pemasaran semi langsung
dengan tengkulak dan pedangang lokal selaku perantara pemasaran.
3. Pola saluran ketiga merupakan pola saluran pemasaran tidak langsung
dengan banyak pihak yang bertindak selaku perantara pemasaran sehingga
saluran merupakan saluran terpanjang dibandingkan saluran pemasaran
lainnya. Ada empat pihak selaku perantara pemasaran dalam pola ini yaitu
a. Tengkulak,
b. Pengumpul lokal,
c. Pengumpul regioanal dan
d. Pengecer regional.
4
Limbong, W.H. dan P. Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. JurusanIlmu-Ilmu Sosial
Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut PertanianBogor. Bogor
5
Ibid hal. 7 Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 8
4. Pada pola ini para petani menjual komoditas kepada tengkulak dengan
sistem borongan kebun, kemudian tengkulak akan menjual kembali
komoditas tersebut kepada para pedagang pengecer regional. Pedagang
pengecer regional dalam hal ini adalah para pedagang yang menjual
komoditas.
Selain empat pola saluran di atas, ada juga, petani yang hanya
menggunakan komoditas mereka untuk keperluan sendiri. Untuk itulah
diperlukan perbaikan dalam sistem distribusi produk agar distribusi menjadi
lebih efisien dengan cara merubah pola pemasaran (memotong jalur distribusi
menjadi dari petani - konsumen). Dengan semakin efisiennya distribusi yang
ada akan menyebabkan peningkatan pendapatan petani. Selain itu cara lain
untuk memperkecil marjin tataniaga pertanian diperlukan pendidikan
dan penyuluhan kepada petani mengenai klasifikasi dalam pemasaran.
Dengan adanya segmentasi pasar diharapkan petani dapat memilah dan
mengolah sendiri produk yang akan dijual, sama seperti yang dilakukan oleh
para pedagang pengumpul dan pengecer. Sehingga pendapatan petani yang
tadinya berbeda jauh dengan yang didapatkan oleh pedagang pengumpul dan
pengecer dapat menjadi lebih kecil perbedaannya (marjin tataniaga mengecil)
serta membangun kemandirian petani.
Dari segi promosi, pemerintah daerah diharapkan dapat membantu para
petani dalam mempromosikan produk pertanian yang telah mereka hasilkan
agar peran pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dapat dikurangi dan
dapat mengangkat nama daerahnya dimata masyarakat daerah lain.
Sedangkan peningkatan pendapatan melalui segi produk dapat
diperoleh melalui peningkatan produktivitas dan kualitas. Apabila telah
dilakukan perbaikan terhadap sistem pemasaran yang ada maka pemerintah
dapat menerapkan sistem pertanian yang berkelanjutan kepada masyarakat.
Karena dengan meningkatkan kesejahteraan petani melalui faktor-faktor di
atas diharapkan masyarkat akan tertarik untuk menekuni bidang pertanian
Indonesia.
2.2 Penyuluhan Pertanian
Dewasa ini pelaku pengembangan pertanian di Indonesia masih
mengeluhkan minimnya informasi pertanian tepat guna yang disediakan oleh
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian. Oleh karena itu menjadi
kewajiban Kementerian Pertanian untuk dapat menyediakan inforamsi
pertanian bagi pelaku Agribisnis. Penyuluh pertanian sebagai tonggak penting
Kementerian Pertanian untuk pengembangan sistem inforamsi pembangunan
pertanian karena sampai saat ini sampai menghadapi permasalahan khususnya
dalam mengembangkan informasi tepat guna yang berkelanjutan.
Dampak Belum adanya mekanisme jaringan informasi pertanian yang
efektif adalah sulitnya mengatasi ketertinggalan masyakarat lapisan bawah
khususnya petani, meskipun telah banyak program pembangunan pertanian
dengan biaya yang tidak sedikit telah dilakukan oleh berbagai pihak
khususnya pemerintah. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 9
Banyak program maupun hasil penelitian pertanian belum dapat
dimanfaatkan untuk memecahkan berbagai persoalan petani karena
disebabkan belum adanya jaringan komunikasi yang secara terprogram yang
efektif yang mampu menghubungkan lembaga penelitian, pengembangan, dan
pengkajian dengan diseminator inovasi (penyuluh, pendidik, petani, dan
kelompok steakholder lainnya yang masing-masing memiliki kebutuhan
dengan jenis dan bentuk informasi yang berbeda).
Pengembangan jaringan komunikasi informasi pembangunan yang
terprogram secara efektif adalah melalui pengembangan sistem kerja cyber
extension dengan dioperasikannya cyber extension untuk mendukung
pengembangan kerjasama dan jejaring kerja penyuluh pertanian dengan
instansi terkait ataupun petani atau steakholder. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 10
BAB III
HASIL YANG DIHARAPKAN
3.1 Konsep Dasar Komunikasi dalam Cyber Extension
Pola komunikasi dalam penyuluhan yang diterapkan di Indonesia saat
ini sebagaian besar masih menggunakan pendekatan top down sehingga
bersifat linear dan bersifat asimetris, komunikasi yang terjadi bias keatas sarat
dengan kepentingan.
Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi saat ini sangat
mendukung terlaksananya proses berbagai pengetahuan dengan demikian
sharing pengetahuan selain dapat dilakukan melalui pertemuan fisik,
konvensional, seperti diskusi, whorkshop juga dapat menggunakan sarana
teknologi informasi dan telekomunikasi yaitu email, mailing list, web
discusion forum web conference, wiki dan blogging.
3.2 Inovasi Pertanian
Akses terhadap informasi inovasi pertanian baik informasi pasar maupun
teknologi pertanian rnenjadi hal yang sangat penting demi kelangsungan
usahatani yang dilaksanakan dalam pengembangan pertanian. Informasi yang
dibutuhkan oleh petani merupakan informasi yang matang dan sudah siap
dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Pengembangan pusat pemadu sistem informasi bidang pertanian di lokasi
yang stretegis dengan pemanfaatan berbagai media yang mampu
menjembatani antara penghasil atau sumber teknologi dengan pengguna akhir
merupakan salah satu pemecahan permasalahan dalam meningkatkan
efektivitas pembangunan pertanian.
Inovasi pertanian merupakan salah satu "alat" yang diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas tanaman/ternak dan pendapatan petani. Namun
demikian, permasalahan yang umum terjadi dalam proses adopsi inovasi
pertanian adalah lambatnya adopsi teknologi oleh petani. Hal ini disebabkan
oleh adanya berbagai faktor yang antara lain adalah
a) Sulitnya informasi sampai ke petani karena infrastruktur yang terbatas,
b) Petani tidak memahami informasi yang diterimanya, karena media
penyampaian informasi kurang sesuai dengan materi yang disampaikan
dan karakteristik petani,
c) Meskipun informasi mengenai inovasi dapat dimengerti, namun sulit
untuk menerapkan karena keterbatasan sumber daya yang tersedia,
d) Petani belum melihat manfaat dan dampak yang secara langsung
menguntungkan dari inovasi yang diintroduksi,
e) Sifat petani yang cenderung tidak mau ambil resiko dalam menerapkan
inovasi yang belum mereka kenal sebelumnya, dan Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 11
f) Tidak mudah mengubah perilaku petani yang berkaitan dengan
kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan usahataninya.6
3.3 Karekteristik Elemen Sistem Jaringan Informasi Inovasi Pertanian
Kebutuhan dan ketersediaan inovasi pertanian merupakan dua aspek yang
saling berkaitan dalam satu kesatuan sistem jaringan informasi inovasi
pertanian. Masing-masing lembaga yang terkait dalam sistem jaringan
informasi pertanian sebagai subsistem memiliki tugas dan fungsi yang
berbeda, sehingga memiliki kebutuhan akan inovasi pertanian dalam bentuk,
format, dan jenis yang berbeda. Inovasi yang dibutuhkan merupakan input
yang akan dimanfaatkan untuk menghasilkan output bagi subsistem yang lain.
Input selanjutnya akan diproses dalam internal kelembagaan melaiui berbagai
kegiatan tertentu untuk dapat menghasilkan output sesuai dengan target yang
ditetapkan. Sepanjang proses mengolah input menjadi output diperlukan
sarana penyimpanan baik yang bersifat sementara maupun tetap. Keberhasilan
dalam menghasilkan output bagi lingkungannya (subsistem yang lain) sangat
bergantung pada ketersediaan inovasi pertanian dari subsistem yang lain pula.
Sinergi antara subsistem yang satu dengan yang Sainnya sangat menentukan
kinerja daiam memproses inovasi pertanian menjadi output yang bermanfaat
bagi subsistem yang lain. Penghubung sistem diperlukan untuk menyinergikan
antara subsistem yang satu dengan yang lainnya.
Sebagaimana sebuah sistem, terdapat setidaknya tujuh elemen atau
karakteristik (Gambar 1) yang dapat diidentifikasi dari sistem jaringan
informasi pertanian, yaitu :
1) Batasan (boundary),
2) Lingkungan (environment),
3) Masukan (input),
4) Keluaran (output),
5) Komponen (component) yaitu proses atau kegiatan,
6) Penyimpanan (storage) baik permanen maupun sementara, dan
7) Penghubung (interface).
6
Sumardjo, Lukman M. Baga Retno SH Mulyandari Cyber Extension “Peluang dan Tantangan
Dalam Revitalisasi Penyuluhan Pertanian Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 12
Gambar 1 Karakteristik Sistem
3.4 Sistem Kerja Cyber Extension
Mekanisme cyber agricultural extension sudah mulai diterapkan di
banyak negara dalam tahun-tahun ini sebagai suatu mekanisme penyaluran
informasi yang dapat diupayakan untuk mencukupi keterbatasan petani di
perdesaan terhadap informasi yang dibutuhkannya.
Sebuah sistem cyber extension memfokuskan pada keseluruhan
pengembangan usaha tani termasuk produksi, manajemen, pemasaran, dan
kegiatan pembangunan perdesaan lainnya. Dengan demikian, konsep cyber
extension adalah model komunikasi dan penjelasan apa saja yang dapat
berkaitan dengan model ini, sebagai komunikasi cyber (cyber communication)
telah dirasakan kebutuhannya dapat menjelaskan kerangka kerja untuk kajian
tentang komunikasi internet. Model komunikasi cyber extension
mengumpulkan atau memusatkan informasi yang diterima oleh petani dari
berbagai sumber yang berbeda maupun yang sama dan disederhanakan dalam
bahasa lokal disertai dengan teks dan ilustrasi audio visual yang dapat
disajikan atau diperlihatkan kepada seluruh masyarakat desa khususnya petani
semacam papan pengumuman (bulletin board) pada kios atau pusat informasi
pertanian. Dalam model komunikasi cyber extension, transmisi informasi dari
sumber ke pusat informasi komunitas akan menjadi milik umum, sedangkan
dari pusat informasi komunitas ke petani, informasi tersedia di wilayah pribadi
(milik pribadi). Keuntungan yang potensiai dari komunikasi cyber extension
adalah ketersediaan yang secara terus menerus, kekayaan, informasi
(informasi nyaris tanpa batas), jangkauan wilayah internasional secara instan,
pendekatan yang berorientasi kepada penerima, bersifat pribadi (individual),
dan menghemat biaya, waktu, dan tenaga7
7
Adekoya AE. 2007 Cyber Extension Comunicaton : A Strategic made for agricultural and rural
transformation in Nigeria. Internasional journal of food, agriculture and environment , (article) Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 13
Program Unlimited Potential merupakan sebuah inisiatif global
Microsoft. Dalam program ini, Microsoft bekerjasama dengan berbagai
lembaga nonprofit untuk menyediakan sarana pelatihan dan pembelajaran
jangka panjang bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan, melalui
Community Training and Learning Centre (CTLC). Masyarakat dapat
mengakses informasi, dan memperdalam pengetahuan di bidang Teknologi
Informasi di CTLC.
Tujuan utama program Unlimited Potential adalah untuk mengurangi
kesenjangan digital bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan. Hal ini
sejalan dengan target pemerintah melalui kesepakatan yang ditandatangani
pada World Summit on Information Society (WSIS) di Geneva untuk
memberikan akses kepada 50% penduduk Indonesia pada tahun 2015.
Program UP di Indonesia pertama kali diluncurkan di Indonesia tanggal
23 Oktober 2003. Melalui pelatihan yang didapat di CTLC, diharapkan
masyarakat dapat membuka wawasan mereka seluas-luasnya melalui akses
informasi dan meningkatkan keahlian mereka di bidang Teknologi Informasi.
Keahlian ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup,
memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi, juga memperkuat daya saing
masyarakat.
Konsep pendirian telecenter semacam CTLC di daerah perdesaan
merupakan program pengembangan komunitas lokal dengan menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi sehingga mampu untuk:
1. Memberdayakan masyarakat dengan kemudahan akses terhadap informasi
dasar seperti informasi pasar, pertanian, perdagangan, pendidikan,
kesehatan, dan lain-lain;
2. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal mengakses informasi
penggunaan komputer, maupun manajemen telecenter melalui pelatihanpelatihan;
3. Mendorong masyarakat untuk meningkatkan perekonomian setempat
dengan kegiatan pembangunan komunitas melalui pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi;
4. Mengembangkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk membangun
komunitas lokal
Melalui Program CTLC (Community Training and Learning Center)
menunjukkan bahwa penerapan teknologi informasi, khususnya internet dapat
membantu meningkatkan penghasilan petani. CTLC menyediakan piranti
komputer dan koneksi ke internet bagi petani di wilayah lokasi CTLC. Salah
satu contoh CTLC adalah CTLC Pancasari yang membantu petani organik di
Desa Pancasari (Gianyar-Bali). Dengan fasilitator yang bekerja di CTLC,
petani belajar mengoperasikan piranti komputer yang terkoneksi ke jaringan
internet. Program ini membantu petani mengakses informasi pertanian penting
dan bahkan lebih jauh mampu mengakses pasar langsung ke pembeli tanpa
melaiui pedagang perantara.
Pengembangan sumber informasi pertanian nasional dan lokal P4MI
(Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi) dalam kegiatannya Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 14
yang dilaksanakannya untuk mendukung pengembangan sumber informasi
pertanian dan lokal berbasis teknologi informasi adalah :
1. Penyempurnaan Sistem Informasi Pasar
Kegiatan penyempurnaan sistem informasi pasar dilaksanakan di
Pusat Data dan Informasi Pertanian (PUSDATIN), Kementerian Pertanian
dengan tahapan sebagai berikut:
a. Melakukan kajian terhadap kegiatan penyempurnaan sistem informasi
pasar yang dilaksanakan bersama-sama dengan konsultan
proyek, termasuk kajian dalam peningkatan kapasitasnya
maupun ruang lingkup isi sistem informasi pasar, dan rancangan
aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan petani di lahan marjinal.
b. Melakukan pemantapan sistem informasi pasar, termasuk
pengoperasian sistem yang telah dikembangkan.
c. Melakukan pemantapan anggaran secara reguler ke dalam anggaran
Kementerian Pertanian dalam pengoperasian sistem informasi pasar
yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Pertanian (P2HP).
2. Pengembangan Website Pertanian Nasional
Pengembangan website pertanian nasional dilaksanakan dengan
beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Mempelajari website sejenis di negara lain
b. Mengidentifikasi model yang dapat diaplikasikan untuk website
Indonesia di lokasi P4MI
c. Merancang web dan hosting
d. Melakukan pemutakhiran secara reguler dan melakukan
pengembangan (expansion)
e. Mengajak partisipasi sektor swasta
f. Telah terintegrasi dengan Kementerian Pertanian sekaligus sebagai
sarana promosi hasil pertanian melalui program market online.
Gambar 2. Website Pertanian Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 15
3. Pembangunan Pusat Informasi Pertanian (UPIPK) di tingkat
kabupaten
Pembangunan pusat informasi pertanian di kantor/instansi/lembaga
pertanian kabupaten atau di kantor Bupati dilaksanakan di lokasi yang
representatif, di mana kontak tani dapat akses dengan pusat informasi
pertanian. Pusat informasi ini akan berfungsi sebagai one stop shop untuk
pertukaran informasi di mana kontak tani dapat memperoleh informasi
yang berguna dan sesuai dengan inovasi produksi dan pemasaran. Dalam
jaringan sistem informasi pertanian nasional yang dikembangkan oleh
P4MI, UPIPK merupakan pusat dari kegiatan akses informasi yang
berbasis apiikasi teknologi informasi yang menjembatani antara sumber
informasi yang berada cli pusat dengan stakeholders lokal. Selatn UPIPK
memfasilitasi pengguna dan stakeholders lokal dalam akses informasi
pertanian, UPIPK juga dapat berfungsi sebagai penghinnpun informasi
(indigenous knowledge) dari sumber informasi lokal. Model UPIPK ideal
P4MI yang telah dirancang oleh Tim Komponen 2 disajikan dalam
Gambar 3.
Gambar 3. Model UPIPK ideal P4MI yang telah dirancang
oleh Tim Komponen 2 Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 16
3.5 Kekuatan, Kelemahan, dan Peluang Sistem Jaringan Komunikasi
Informasi Cyber Extension
a. Kekuatan
Manfaat yang menjadi kekuatan implementasi cyber extension antara lain
adalah :
1. Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal
dan nasional
2. Membuka akses petani terhadap inforamsi pertanian untuk
meningkatkan pendapatan dan cara pencapaiannya
3. Mendukung terlaksananya kegiatan pengembangan, pengelolaan dan
pemanfaatan informasi pertanian secara langsung maupun tidak
langsung.
4. Terdokumentasi informasi pertanian
5. Memberdayakan masyarakat dengan kemudahan akses terhadap
informasi dasar seperti informasi pasar, pertanian, perdagangan,
pendidikan dan kesehatan
6. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal mengakses
informasi penggunaan komputer, manajemen telecenter
b. Kelemahan
Belum adanya komitmen manajemen dilevel steakholder managerial
dengan memberikan kebijakan yang tidak konsisten, belum memiliki
kapasitas dibidang teknologi informasi sebagian besar belum mengetahui
secara persis konsep aplikasi teknologi informasi sehingga tidak tahu apa
yang harus dilakukan, terlalu luasnya wilayah jangkuan sehingga
penerapanya tidak merata biaya operasional aplikasi teknologi informasi
tidak memadai.
c. Peluang
Terbukanya informasi dari seluruh dunia mengenai informasi pertanian
3.6 Pelaku Jaringan Komunikasi Informasi Inovasi Pertanian
Sumber informasi pertanian adalah lembaga atau institusi yang
bertanggung jawab mengolah, menghasilkan dan menyediakan informasi
pertanian yang dijamin dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya
serta mudah digunakan dan dimengerti petani yaitu : Direktorat Jenderal
terkait dan pusat perpustakaan dan penyebaran teknologi pertanian (level
pusat, balai pengkajian teknologi pertanian dan lembaga Lit Kaji Komoditas
Terkait.
Saluran Informasi adalah individu atau petugas (penyuluh pertanian)
yang bertanggung jawab menyalurkan atau menyampaikan informasi
pengguna informasi (petani) diantaranya adalah penyuluh, petani maju,
mantri tani pedagang yang dianggap mampu menyampaikan informasi
pertanian kepada pelaku utama pembangunan pertanian (petani). Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 17
3.7 Penguatan Sistem Jaringan Komunikasi Informasi Inovasi Pertanian
Melalui Implementasi Cyber Extension
Masing-masing lembaga atau stakeholder saling berhubungan untuk
dapat menjalankan tugas maupun kewajiban agar dapat menghasilkan output
sebagaimana diharapkan dalam sistem jaringan komunikasi pertanian secara
keseluruhan keterkaitan antara masing-masing stakeholder baik pusat
maupun daerah dalam sistem pengembangan tersebut. Dalam sistem jaringan
komunikasi inovasi pertanian nasional pada sistem kerja cyber extension
badan penyuluh kabupaten merupakan pusat dari kegiatan akses informasi
yang berbasis aplikasi teknologi informasi yang menjembatani antara sumber
informasi yang berada di pusat dengan stakeholder lokal sekaligus bertindak
sebagai lembaga pemandu sistem.
Gambar 4. Sistem Jaringan Komunikasi Inovasi Pertanaian yang perlu
dikembangkan dalam strategi Implementasi Cyber Extension di Indonesia Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 18
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Dalam pengembangan sektor pertanian ke depan masih ditemui
beberapa kendala, terutama dalam pengembangan sistem pertanian yang
berbasiskan agribisnis dan agroindustri. Kendala tersebut antara lain: (a)
lemahnya struktur permodalan dan akses terhadap sumber permodalan;
(b) ketersediaan lahan dan masalah kesuburan tanah; (c) pengadaan dan
penyaluran sarana produksi; (d) terbatasnya kemampuan dalam
penguasaan teknologi; (e) lemahnya organisasi dan manajemen usaha
tani; dan (f) kurangnya kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia
untuk sektor agribisnis
2. Petani menghadapi beberapa kendala untuk memasarkan produk
pertanian, antara lain: (a) kesinambungan produksi; (b) panjangnya
saluran pemasaran; (c) kurang memadainya pasar; (d) kurang
tersedianya informasi pasar; (e) rendahnya kemampuan tawar-menawar;
(f) berfluktuasinya harga; (g) rendahnya kualitas produksi; (h) kurang
jelasnya jaringan pemasaran; dan (i) rendahnya kualitas sumberdaya
manusia.
3. Dengan adanya segmentasi pasar diharapkan petani dapat memilah dan
mengolah sendiri produk yang akan dijual, sama seperti yang dilakukan
oleh para pedagang pengumpul dan pengecer. Sehingga pendapatan
petani yang tadinya berbeda jauh dengan yang didapatkan oleh
pedagang pengumpul dan pengecer dapat menjadi lebih kecil
perbedaannya (marjin tataniaga mengecil) serta membangun
kemandirian petani.
4. Dari segi promosi, pemerintah daerah diharapkan dapat membantu para
petani dalam mempromosikan produk pertanian yang telah mereka
hasilkan agar peran pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dapat
dikurangi dan dapat mengangkat nama daerahnya dimata masyarakat
daerah lain.
5. Banyak program maupun hasil penelitian pertanian belum dapat
dimanfaatkan untuk memecahkan berbagai persoalan petani karena
disebabkan belum adanya jaringan komunikasi yang secara terprogram
yang efektif yang mampu menghubungkan lembaga penelitian,
pengembangan, dan pengkajian dengan inovasi (penyuluh, pendidik,
petani, dan kelompok steakholder lainnya yang masing-masing memiliki
kebutuhan dengan jenis dan bentuk informasi yang berbeda).
6. Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi saat ini sangat
mendukung terlaksananya proses berbagai pengetahuan dengan
demikian sharing pengetahuan selain dapat dilakukan melalui pertemuan
fisik, konvensional, seperti diskusi, whorkshop juga dapat menggunakan Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 19
sarana teknologi informasi dan telekomunikasi yaitu email, mailing list,
web discusion forum web conference, wiki dan blogging.
7. Sistem cyber extension memfokuskan pada keseluruhan pengembangan
usaha tani termasuk produksi, manajemen, pemasaran, dan kegiatan
pembangunan perdesaan lainnya.
8. Pendirian telecenter (CTLC) di daerah perdesaan merupakan program
pengembangan komunitas lokal dengan menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi sehingga mampu untuk memberdayakan
masyarakat, meningkatkan kemampuan masyarakat, mendorong
masyarakat untuk meningkatkan perekonomian, mengembangkan
kerjasama dengan pihak-pihak terkait untuk membangun komunitas
lokal.
9. Pengembangan sumber informasi pertanian nasional dan lokal P4MI
(Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi) dalam
kegiatannya yang dilaksanakannya untuk mendukung pengembangan
sumber informasi pertanian dan lokal berbasis teknologi informasi
adalah penyempurnaan Sistem Informasi Pasar, pengembangan Website
Pertanian Nasional, Pembangunan Pusat Informasi Pertanian (UPIPK) di
tingkat kabupaten.
4.2 Saran
1. Pemasaran pertanian tidak bisa lepas dari sistem hukum ekonomi bahwa
harga suatu produk dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu permintaan
pasar, mutu produksi, tingkat kegunaan/olahan (bahan mentah, setengah
jadi, jadi dan siap dikonsumsi). Banyak upaya yang dilakukan dalam
pemasaran pertanian agar harga jual menjadi tinggi dapat dilakukan
dengan cara mengantisipasi harga sebelum tanam, melaksanakan teknik
budidaya secara baik, kemudian penanganan pasca panen yang tepat,
pengolahan hasil, memperpendek rantai hasil pemasaran dengan cara
memasarkan langsung ke konsumen, memasarkan ke grosir atau pabrik
dan memasarkan ke pedagang atau pengumpul.
2. Dengan mudahnya mengakses informasi inovasi pertanian melalui website
(cyber extension) diharapkan petani dapat mudah memperoleh informasi
dalam memasarkan produk-produk pertanian. Sistem Informasi Manajemen : Cyber Extension 20
DAFTAR PUSTAKA
Sumardjo, Lukman M. Baga Retno SH Mulyandari Cyber Extension “Peluang
dan Tantangan Dalam Revitalisasi Penyuluhan Pertanian, IPB Press. 2010
Almasdi Syahza, (2001a). Kajian sosial ekonomi usahatani tanaman pangan dan
hortikultura di kabupaten Pelalawan Propinsi Riau, Pangkalan Kerinci,
BAPPEDA Kabupaten Pelalawan,
Adekoya AE. 2007 Cyber Extension Comunicaton : A Strategic made for
agricultural and rural transformation in Nigeria. Internasional journal of
food, agriculture and environment , (article)
Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran . Jilid 1. Edisi ke-9. PT Prenhalindo.
Jakarta. Limbong, W.H. dan P. Sitorus. 1987.
Suheni. 2005. Strategi Pemasaran Bibit/Benih Tanaman Hias Balai Benih
Induk Hortikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta.
Skripsi.Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian
InstitutPertanian Bogor. Bogor
Limbong, W.H. dan P. Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Jurusan
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
PertanianBogor. Bogor